Sejarah Perkembangan Penemuan Sel dan Mikroskop dari masa ke masa lengkap

Hai Sahabat Insan Pendidkan, apakah kamu suka belajar IPA? IPA adalah salah satu mata pelajaran yang menarik dan bermanfaat untuk memahami fenomena alam dan kehidupan. Salah satu materi IPA yang penting untuk dipelajari adalah sejarah sel dan mikroskop.

Sel adalah unit terkecil penyusun makhluk hidup yang memiliki fungsi dan struktur tertentu. Mikroskop adalah alat yang digunakan untuk mengamati objek yang sangat kecil seperti sel. Tanpa mikroskop, kita tidak akan bisa mengetahui bagaimana bentuk dan susunan sel.

Namun, tahukah kamu bagaimana sejarah penemuan sel dan mikroskop? Siapa saja tokoh-tokoh yang berperan dalam perkembangan ilmu sel dan mikroskop? Bagaimana cara menggunakan mikroskop yang benar? Apa saja jenis-jenis sel dan mikroskop yang ada?

Jika kamu ingin mengetahui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka kamu berada di tempat yang tepat. Di artikel ini, kami akan memberikan informasi lengkap tentang sejarah sel dan mikroskop, beserta 40 soal IPA kelas 8 bab sejarah sel dan mikroskop beserta kunci jawabannya.

Dengan membaca artikel ini, kamu akan mendapatkan pengetahuan baru tentang sejarah sel dan mikroskop, serta melatih kemampuanmu dalam menjawab soal-soal IPA kelas 8 bab sejarah sel dan mikroskop. Jadi, jangan lewatkan artikel ini sampai habis ya!

Sejarah Sel dan Mikroskop

Sejarah penemuan sel dan mikroskop tidak bisa dipisahkan, karena keduanya saling berkaitan. Berikut adalah rangkuman sejarah sel dan mikroskop dari berbagai sel

• Pada tahun 1665, Robert Hooke, seorang ilmuwan Inggris, mengamati sayatan gabus dengan menggunakan mikroskop buatannya sendiri. Ia melihat adanya lubang-lubang kecil yang beraturan seperti sarang lebah. Ia menyebut lubang-lubang tersebut sebagai cellulae (sel), yang berarti ruangan kecil dalam bahasa Latin.

• Pada tahun 1674, Antonie van Leeuwenhoek, seorang pedagang kain Belanda yang hobi membuat lensa, mengamati air kolam dengan menggunakan lensa buatannya sendiri. Ia melihat adanya benda-benda hidup yang sangat kecil yang bergerak-gerak. Ia menyebut benda-benda tersebut sebagai animalcules (hewan-hewan kecil).

• Pada tahun 1831, Robert Brown, seorang botanis Skotlandia, mengamati inti sel pada tumbuhan anggrek dengan menggunakan mikroskop. Ia menyebut inti sel tersebut sebagai nucleus (inti dalam bahasa Latin).

• Pada tahun 1838, Matthias Schleiden, seorang botanis Jerman, mengemukakan bahwa semua tumbuhan tersusun dari sel-sel.

• Pada tahun 1839, Theodor Schwann, seorang ahli fisiologi Jerman, mengemukakan bahwa semua hewan juga tersusun dari sel-sel. Ia juga mengusulkan bahwa sel memiliki membran tipis sebagai pembatasnya.

• Pada tahun 1855, Rudolf Virchow, seorang ahli patologi Jerman, mengemukakan bahwa semua sel berasal dari sel yang sudah ada sebelumnya. Ia juga menghubungkan antara penyakit dengan kelainan pada sel.

• Pada tahun 1858, Charles Darwin, seorang ahli biologi Inggris, mengemukakan teori evolusi yang menyatakan bahwa semua makhluk hidup memiliki kesamaan asal-usul dari nenek moyang bersama.

• Pada tahun 1869, Friedrich Miescher, seorang ahli biokimia Swiss, mengisolasi zat putih pada inti sel. Ia menyebut zat tersebut sebagai nuclein (nuklein), yang kemudian dikenal sebagai asam nukleat atau DNA.

• Pada tahun 1882, Walther Flemming, seorang ahli anatomi Jerman, mengamati proses pembelahan sel dengan menggunakan pewarnaan khusus pada inti sel. Ia melihat adanya benang-benang halus yang membentuk kromosom pada inti sel. Ia juga mengenalkan istilah mitosis untuk proses pembelahan sel.

• Pada tahun 1898, Camillo Golgi, seorang ahli histologi Italia, mengembangkan metode pewarnaan khusus untuk mengamati struktur sel. Ia menemukan adanya jaringan halus yang menghubungkan membran dan inti sel. Ia menyebut jaringan tersebut sebagai apparato reticolare interno (aparatus retikulum internal), yang kemudian dikenal sebagai aparatus Golgi.

• Pada tahun 1898, Eduard Strasburger, seorang ahli botani Jerman, mengamati proses pembelahan inti sel pada tumbuhan. Ia menemukan bahwa inti sel membagi diri dengan cara yang sama pada tumbuhan dan hewan. Ia juga menemukan bahwa jumlah kromosom tetap sama pada setiap sel anak.

• Pada tahun 1900, Carl Correns, Hugo de Vries, dan Erich von Tschermak, tiga ahli genetika dari Jerman, Belanda, dan Austria, secara terpisah menemukan kembali hukum pewarisan sifat yang telah dikemukakan oleh Gregor Mendel pada tahun 1866. Mereka menyadari bahwa kromosom adalah pembawa sifat yang diturunkan dari orang tua ke anak.

• Pada tahun 1902, Theodor Boveri, seorang ahli embriologi Jerman, dan Walter Sutton, seorang ahli genetika Amerika Serikat, secara terpisah mengemukakan hipotesis bahwa kromosom adalah unit dasar pewarisan sifat. Hipotesis ini kemudian dikenal sebagai teori kromosom.

• Pada tahun 1905, Albert Einstein, seorang ahli fisika Jerman, mengemukakan teori relativitas khusus yang menyatakan bahwa massa dan energi adalah dua bentuk yang berbeda dari hal yang sama. Ia juga menyatakan bahwa energi dapat diubah menjadi massa dan sebaliknya dengan rumus E = mc2.

• Pada tahun 1910, Thomas Hunt Morgan, seorang ahli genetika Amerika Serikat, mengamati variasi warna mata pada lalat buah. Ia menemukan bahwa sifat warna mata ditentukan oleh lokasi gen pada kromosom. Ia juga menemukan bahwa beberapa gen dapat saling mempengaruhi atau berpindah tempat pada kromosom. Ia menyebut fenomena ini sebagai linkage (kaitan) dan crossing over (pindah silang).

• Pada tahun 1926, Jan Evangelista Purkinje, seorang ahli fisiologi Ceko, dan Camillo Golgi, seorang ahli histologi Italia, secara terpisah menemukan adanya organel-organel dalam sitoplasma sel. Mereka menemukan adanya mitokondria, lisosom, ribosom, dan lain-lain.

• Pada tahun 1931, Ernst Ruska dan Max Knoll, dua ahli fisika Jerman, berhasil membuat mikroskop elektron yang dapat memperbesar objek hingga 400 kali lebih besar daripada mikroskop cahaya. Mikroskop elektron ini memungkinkan pengamatan struktur sel dengan lebih detail dan akurat.

• Pada tahun 1944, Oswald Avery, Colin MacLeod, dan Maclyn McCarty, tiga ahli biokimia Amerika Serikat, melakukan percobaan dengan bakteri pneumokokus. Mereka menunjukkan bahwa DNA adalah zat yang bertanggung jawab atas perubahan sifat bakteri dari tidak berbahaya menjadi berbahaya. Percobaan ini membuktikan bahwa DNA adalah materi genetik yang menyimpan informasi sifat makhluk hidup.

• Pada tahun 1952, Alfred Hershey dan Martha Chase, dua ahli biokimia Amerika Serikat, melakukan percobaan dengan virus bakteriofag. Mereka menunjukkan bahwa DNA adalah zat yang diinjeksikan oleh virus ke dalam sel bakteri untuk mereplikasi dirinya sendiri. Percobaan ini menguatkan bukti bahwa DNA adalah materi genetik yang mengendalikan aktivitas sel.

• Pada tahun 1953, James Watson dan Francis Crick, dua ahli biokimia Inggris Jerman, berhasil menentukan struktur DNA sebagai tangga spiral ganda yang terdiri dari empat basa nitrogen, yaitu adenin, timin, guanin, dan sitosin. Mereka juga menunjukkan bahwa urutan basa nitrogen pada DNA menentukan urutan asam amino pada protein. Penemuan ini merupakan terobosan besar dalam bidang biologi molekuler.

• Pada tahun 1956, Joe Hin Tjio dan Albert Levan, dua ahli sitologi dari Amerika Serikat dan Swedia, berhasil menentukan jumlah kromosom manusia sebagai 46 buah. Sebelumnya, jumlah kromosom manusia diperkirakan antara 46 hingga 48 buah.

• Pada tahun 1958, Matthew Meselson dan Franklin Stahl, dua ahli biokimia Amerika Serikat, melakukan percobaan dengan bakteri Escherichia coli. Mereka menunjukkan bahwa replikasi DNA bersifat semikonservatif, yaitu setiap untai DNA baru terdiri dari satu untai DNA lama dan satu untai DNA baru. Percobaan ini mengungkapkan mekanisme replikasi DNA.

• Pada tahun 1961, Francis Crick, Sydney Brenner, Leslie Barnett, dan Richard Watts-Tobin, empat ahli biokimia dari Inggris, melakukan percobaan dengan bakteriofag. Mereka menunjukkan bahwa kode genetik terdiri dari tiga basa nitrogen yang disebut kodon. Setiap kodon menentukan satu asam amino tertentu. Percobaan ini mengungkapkan mekanisme transkripsi dan translasi DNA.

• Pada tahun 1963, Lynn Margulis, seorang ahli biologi Amerika Serikat, mengemukakan teori endosimbiosis yang menyatakan bahwa mitokondria dan kloroplas berasal dari bakteri yang bersimbiosis dengan sel eukariotik. Teori ini menjelaskan asal-usul organel-organel sel.

• Pada tahun 1965, Marshall Nirenberg dan Heinrich Matthaei, dua ahli biokimia Amerika Serikat, berhasil menguraikan kode genetik pertama yaitu UUU yang menentukan asam amino fenilalanin. Mereka juga berhasil menguraikan kode genetik lainnya dengan menggunakan metode sintesis RNA.

• Pada tahun 1970, Hamilton Smith, seorang ahli mikrobiologi Amerika Serikat, menemukan enzim restriksi yang dapat memotong DNA pada urutan basa tertentu. Enzim restriksi ini memungkinkan manipulasi DNA untuk keperluan rekayasa genetika.

• Pada tahun 1972, Paul Berg, seorang ahli biokimia Amerika Serikat, berhasil membuat DNA rekombinan pertama yaitu DNA yang berasal dari dua sumber yang berbeda. Ia menggabungkan DNA virus SV40 dengan DNA bakteriofag lambda. Penemuan ini merupakan awal dari teknologi DNA rekombinan.

• Pada tahun 1973, Herbert Boyer dan Stanley Cohen, dua ahli biokimia Amerika Serikat, berhasil membuat organisme transgenik pertama yaitu organisme yang memiliki gen dari organisme lain. Mereka memindahkan gen resistensi antibiotik dari bakteriofag ke bakteri Escherichia coli. Penemuan ini merupakan awal dari teknologi transgenik.

• Pada tahun 1977, Frederick Sanger dan Walter Gilbert, dua ahli biokimia Inggris, secara terpisah mengembangkan metode sekuensing DNA yaitu proses penentuan urutan basa nitrogen pada DNA. Metode sekuensing DNA ini memungkinkan analisis genetik yang lebih mendalam dan akurat.

• Pada tahun 1983, Kary Mullis, seorang ahli biokimia Amerika Serikat, mengembangkan metode PCR (polymerase chain reaction) yaitu proses penggandaan DNA secara cepat dan banyak dengan menggunakan enzim polimerase. Metode PCR ini memungkinkan deteksi dan identifikasi DNA dengan lebih mudah dan efisien.

• Pada tahun 1986, Leroy Hood dan Lloyd Smith, dua ahli biokimia Amerika Serikat, mengembangkan metode sekuensing DNA otomatis yaitu proses penentuan urutan basa nitrogen pada DNA dengan menggunakan mesin dan komputer. Metode sekuensing DNA otomatis ini memungkinkan sekuensing DNA dengan lebih cepat dan murah.

• Pada tahun 1990, John Craig Venter dan Francis Collins, dua ahli genetika Amerika Serikat, memulai proyek Human Genome Project yaitu proyek yang bertujuan untuk menentukan urutan basa nitrogen pada DNA manusia. Proyek ini berhasil diselesaikan pada tahun 2003 dengan hasil bahwa DNA manusia terdiri dari sekitar 3 miliar basa nitrogen yang membentuk sekitar 20.000 hingga 25.000 gen.

• Pada tahun 1996, Ian Wilmut, Keith Campbell, dan rekan-rekan mereka, sekelompok ahli bioteknologi dari Skotlandia, berhasil mengkloning domba pertama yang diberi nama Dolly. Mereka menggunakan metode transfer inti sel somatik yaitu proses memindahkan inti sel dari sel tubuh ke sel telur yang telah dikosongkan intinya. Dolly adalah hewan pertama yang dikloning dari sel dewasa….

21:50
lanjutkan

Bing, 21:50
• lanjutkan

Oke, berikut adalah lanjutan dari artikel tentang sejarah sel dan mikroskop, beserta 40 soal IPA kelas 8 bab sejarah sel dan mikroskop beserta kunci jawabannya.

• Pada tahun 1953, James Watson dan Francis Crick, dua ahli biokimia Inggris, berhasil menentukan struktur DNA sebagai heliks ganda yang terdiri dari empat basa nitrogen, yaitu adenin, timin, guanin, dan sitosin. Mereka juga menemukan bahwa basa-basa tersebut berpasangan secara spesifik, yaitu adenin dengan timin dan guanin dengan sitosin. Penemuan ini merupakan terobosan besar dalam bidang biologi molekuler.

• Pada tahun 1955, George Palade, seorang ahli biologi sel Rumania-Amerika Serikat, menggunakan mikroskop elektron untuk mengamati struktur sel hewan. Ia menemukan adanya retikulum endoplasma halus yang mengandung ribosom. Ia juga menemukan adanya vesikel yang mengangkut zat-zat antara organel-organel sel. Ia disebut sebagai bapak biologi sel modern.

• Pada tahun 1958, Matthew Meselson dan Franklin Stahl, dua ahli biokimia Amerika Serikat, melakukan percobaan dengan bakteri Escherichia coli. Mereka menunjukkan bahwa replikasi DNA adalah semikonservatif, yaitu setiap untai DNA baru terdiri dari satu untai DNA lama dan satu untai DNA baru. Percobaan ini membuktikan mekanisme replikasi DNA yang telah dikemukakan oleh Watson dan Crick.

• Pada tahun 1959, Jo Hin Tjio dan Albert Levan, dua ahli sitologi Swedia, menetapkan bahwa jumlah kromosom normal pada manusia adalah 46. Sebelumnya, jumlah kromosom manusia diperkirakan antara 46 hingga 48.

• Pada tahun 1961, Francis Crick, seorang ahli biokimia Inggris, mengemukakan hipotesis bahwa urutan basa nitrogen pada DNA menentukan urutan asam amino pada protein. Hipotesis ini kemudian dikenal sebagai kode genetik.

• Pada tahun 1962, James Watson, Francis Crick, dan Maurice Wilkins, tiga ahli biokimia Inggris, menerima Hadiah Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran atas penemuan struktur DNA sebagai heliks ganda. Rosalind Franklin, seorang ahli kristalografi Inggris yang juga berkontribusi dalam penemuan ini dengan foto-foto sinar-X DNA-nya, tidak mendapatkan penghargaan ini karena ia telah meninggal pada tahun 1958.

• Pada tahun 1965, Marshall Nirenberg dan Heinrich Matthaei, dua ahli biokimia Amerika Serikat, berhasil menguraikan kode genetik pertama dengan menggunakan sistem sintesis protein buatan. Mereka menunjukkan bahwa urutan basa UUU pada RNA menyandi asam amino fenilalanin. Penelitian ini membuka jalan untuk menguraikan kode genetik lainnya.

• Pada tahun 1970, Hamilton Smith, seorang ahli mikrobiologi Amerika Serikat, menemukan enzim restriksi yang dapat memotong DNA pada lokasi spesifik. Enzim restriksi ini memungkinkan manipulasi DNA untuk tujuan penelitian atau rekayasa genetika.

• Pada tahun 1971, Lynn Margulis, seorang ahli biologi Amerika Serikat, mengemukakan teori endosimbiosis yang menyatakan bahwa mitokondria dan kloroplas berasal dari bakteri yang hidup bersimbiosis di dalam sel eukariotik. Teori ini menjelaskan asal-usul organel-organel tersebut yang memiliki membran ganda dan DNA sendiri.

• Pada tahun 1972, Paul Berg, seorang ahli biokimia Amerika Serikat, berhasil membuat molekul DNA rekombinan pertama dengan menyambungkan fragmen DNA dari virus SV40 dan bakteri E. coli. Penelitian ini merupakan awal dari teknologi DNA rekombinan yang dapat digunakan untuk membuat produk-produk bioteknologi seperti insulin atau vaksin.

• Pada tahun 1973, Stanley Cohen dan Herbert Boyer, dua ahli biokimia Amerika Serikat, berhasil mentransfer gen dari katak ke bakteri dengan menggunakan enzim restriksi dan plasmid. Penelitian ini merupakan awal dari teknologi transfer gen yang dapat digunakan untuk mengubah sifat organisme secara genetik.

• Pada tahun 1977, Carl Woese, seorang ahli mikrobiologi Amerika Serikat, mengusulkan sistem klasifikasi makhluk hidup baru berdasarkan urutan basa RNA ribosom. Ia membagi makhluk hidup menjadi tiga domain, yaitu bakteri, arkea, dan eukariota. Sistem ini menggantikan sistem klasifikasi lama yang hanya membagi makhluk hidup menjadi dua kerajaan, yaitu prokariota dan eukariota.

• Pada tahun 1983, Kary Mullis, seorang ahli biokimia Amerika Serikat, menemukan metode reaksi berantai polimerase (PCR) yang dapat menggandakan DNA secara cepat dan banyak. Metode ini sangat berguna untuk analisis DNA dalam bidang forensik, kedokteran, atau biologi molekuler.

• Pada tahun 1986, Alec Jeffreys, seorang ahli genetika Inggris, menemukan metode sidik jari DNA yang dapat mengidentifikasi individu berdasarkan variasi DNA mereka. Metode ini sangat berguna untuk menentukan identitas atau hubungan kekerabatan seseorang dalam bidang forensik, kedokteran, atau antropologi.

• Pada tahun 1990, Human Genome Project (Proyek Genom Manusia) dimulai dengan tujuan untuk menentukan urutan basa lengkap dari genom manusia. Proyek ini melibatkan ribuan ilmuwan dari berbagai negara dan institusi. Proyek ini selesai pada tahun 2003 dengan hasil bahwa genom manusia terdiri dari sekitar 3 miliar pasang basa yang membentuk sekitar 20.000 hingga 25.000 gen.

• Pada tahun 1996, Dolly, seekor domba betina, lahir sebagai hasil kloning pertama dari sel dewasa. Dolly dibuat dengan cara mengambil inti sel dari kelenjar susu seekor domba dewasa dan memasukkannya ke dalam sel telur yang telah dikosongkan intinya dari seekor domba lain. Sel telur tersebut kemudian dipindahkan ke rahim seekor domba ketiga yang bertindak sebagai ibu pengganti. Kelahiran Dolly menimbulkan kontroversi dan perdebatan etis tentang kloning makhluk hidup.